Generasi yang lahir pada tahun 1980-an (1981 – 1995) dikenal sebagai  generasi Y.  Mereka adalah generasi yang melek teknologi.  Sangat adaptif terhadap teknologi baru, terutama di bidang ICT mulai dari penggunaan perangkat elektronik seperti handphone, perangkat audio – video digital seperti ipod, iphone, ipad, sampai dengan game digital (Play Station, Wii, Nintendo DS, Xbox) serta internet.  Berbeda dengan generasi X yang lahir antara tahun 1965 – 1980 dimana perkembangan ICT belum begitu pesat. Jika dibandingkan, tentu kalah canggih dibandingkan generasi Y.   Namun demikian … generasi yang lahir pada mulai tahun 1996 sampai menjelang era milenium baru  dikenal dengan sebutan digital native.  Mereka bahkan lebih canggih lagi. Menurut hasil survey yang dilakukan http://www.netday.com di Amerika Serikat, mereka yang  digital native tidak hanya menggunakan teknologi internet secara berbeda, namun juga melakukan pendekatan dan menjalani kehidupan mereka sehari-hari secara berbeda pula. Generasi digital native sebenarnya bukan hanya menggunakan satu layanan konten saja. Namun  lebih dari itu, mereka juga bisa berkomunikasi dan berinteraksi melalui jejaring sosial seperti twitter, Instagram, facebook, Whats App, dan lain-lain.

(lebih…)

Sesuai Ketentuan Permendikbud No. 160 Tahun 2014 pasal 7 – bahwa  satuan pendidikan PAUD melakasanakan kurtilas (K-13), maka untuk melengkapi pemahaman bersama akan Standar pada Pendidikan Anak Usia Dini,  terlampir Standar PAUD yang dikenal juga sebagai STPPA  atau Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak.

Berikut dokumen yang dimaksud ….

permendikbud_tahun2014_nomor137

permendikbud_tahun2014_nomor137_lampiran_I

permendikbud_tahun2014_nomor137_lampiran_II

permendikbud_tahun2014_nomor137_lampiran_III

Selamat belajar ….

Pendahuluan

Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di sebuah sekolah unggulan mengadu kepada orang tuanya, ia tidak lagi ingin sekolah.  Setiap hari ia  sulit sekali bangun pagi dan segera mandi, harus dibujuk-bujuk. Setiap ingin ke sekolah anak itu rewel dan seringkali muntah.  Orang tuanya panik dan segera mencari penyebab anak itu tidak lagi ingin sekolah.  Setelah diselidiki, ternyata anak itu tidak betah berada di sekolah.  Ia mengatakan, setiap hari sekolah membebaninya dengan ulangan, tugas dan pekerjaan rumah (PR) yang menumpuk.  Sekolah tidak menjadi tempat yang menyenangkan.  Oleh karena itu, orang tuanya dengan terpaksa memindahkan anak itu ke sebuah SD nonunggulan di dekat rumah.

Seminggu berlalu, sebulan – dua bulan berjalan, anak itu menampakkan wajah ceria dan bahagia setiap ingin sekolah.  Sekarang baginya, sekolah adalah rumah kedua.  Sekolah tempatnya berada, tidak membebani anak-anak dengan berbagai tugas, pekerjaan rumah, dan ulangan harian. Pada hakekatnya guru perlu memberikan tugas, PR serta ulangan kepada peserta didik.  Namun demikian, dalam memberikan tugas itu, guru perlu memperhatikan karakteristik dan kebutuhan anak untuk bersosialisasi dengan keluarga, teman dan masyarakat.  Guru hendaknya bijaksana sehingga tugas dan pekerjaan yang diberikan kepada anak tersebut jangan sampai membebani mereka dan tetap merasakan belajar itu kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan.

(lebih…)

Menjelang akhir kepemimpinan Moh. Nuh sebagai Mendikbud, sebagai pelengkap dari K-13 yang sebelumnya telah diperkenalkan, Kemendikbud meluncurkan Kurikulum 2013 untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).  Berikut terlampir file permendikbud tsb.beserta lampirannya (dalam format PDF).

permendikbud_tahun2014_nomor146

permendikbud_tahun2014_nomor146_lampiran_I

permendikbud_tahun2014_nomor146_lampiran_II

permendikbud_tahun2014_nomor146_lampiran_III

permendikbud_tahun2014_nomor146_lampiran_IV

permendikbud_tahun2014_nomor146_lampiran_V

Dan sesuai ketentuan Permendikbud No. 160 Tahun 2014 –  Pasal 7  dituliskan bahwa,

“Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melaksanakan Kurikulum 2013 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan.”.

Mari kita pelajari bersama kurikulum tsb. Harapannya, terjadi peningkatan pemahaman akan K-13 PAUD, sehingga para pendidik dapat menerapkannya secara optimal di sekolah.

 

Permendikbud terakhir pada era kepemimpinan  Moh. Nuh sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah permendikbud No. 159 Tahun 2014 yang isinya tentang Evaluasi Kurikulum.

Berikut ini … salah satu satu snapshot:

Picture1File secara lengkap dapat diunduh disini

permendikbud-no-159-thn-2014

Selamat membaca …

 

Guna menghindari salah tafsir dan sebagai landasan hukum tentang penerapan (implementasi) kurikulum 2013 di sekolah-sekolah, maka Mendikbud Anies Baswedan mengeluarkan Peraturan Menteri (permen) Nomor 160 Tahun 2014 yang  menegaskan ulang penghentian pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13) bagi sekolah-sekolah  yang baru 1 (satu) semester melakukannya pada tahun Pelajaran 2014/2015 dan Meneruskan implementasi K-13 bagi sekolah-sekolah yang telah 3 (tiga) semester menerapkan K-13 di sekolahnya.  Permendibud tersebut merupakan Peraturan Menteri pertama yang diterbitkan oleh Mendikbud Anies Rasyid Baswedan.

Secara lengkap Permendikbud tersebut dapat diunduh di bawah ini:

permendikbud_pemberlakuan_K_06-1_hasil_Rapim_11_Des_2014-3

 

Gegap gempita  – kepala sekolah, guru, dan peserta didik menyambut penghentian kurikulum 2013 bagi semua sekolah yang baru saja menerapkan kurikulum 2013 selama 1 semester.

Dasar hukumnya jelas, karena Mendikbud Anies Baswedan mengeluarkan surat penghentian  kurikulum 2013 dengan 3 keputusan sebagai berikut:

  1. Menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menerapkan satu semester, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2014/2015. Sekolah-sekolah ini supaya kembali menggunakan Kurikulum 2006. Bagi Ibu/Bapak kepala sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, mohon persiapkan sekolah untuk kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Harap diingat, bahwa berbagai konsep yang ditegaskan kembali di Kurikulum 2013 sebenarnya telah diakomodasi dalam Kurikulum 2006, semisal penilaian otentik, pembelajaran tematik terpadu, dll. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi guru-guru di sekolah untuk tidak mengembangkan metode pembelajaran di kelas. Kreatifitas dan keberanian guru untuk berinovasi dan keluar dari praktik-pratik lawas adalah kunci bagi pergerakan pendidikan Indonesia.
  1. Tetap menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah tiga semester ini menerapkan, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan menjadikan sekolah-sekolah tersebut sebagai sekolah pengembangan dan percontohan penerapan Kurikulum 2013. Pada saat Kurikulum 2013 telah diperbaiki dan dimatangkan lalu sekolah-sekolah ini (dan sekolah-sekolah lain yang ditetapkan oleh Pemerintah) dimulai proses penyebaran penerapan Kurikulum 2013 ke sekolah lain di sekitarnya. Bagi Ibu dan Bapak kepala sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, harap bersiap untuk menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013. Kami akan bekerja sama dengan Ibu/Bapak untuk mematangkan Kurikulum 2013 sehingga siap diterapkan secara nasional dan disebarkan dari sekolah yang Ibu dan Bapak pimpin sekarang. Catatan tambahan untuk poin kedua ini adalah sekolah yang keberatan menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013, dengan alasan ketidaksiapan dan demi kepentingan siswa, dapat mengajukan diri kepada Kemdikbud untuk dikecualikan.
  1. Mengembalikan tugas pengembangan Kurikulum 2013 kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pengembangan Kurikulum tidak ditangani oleh tim ad hoc yang bekerja jangka pendek. Kemdikbud akan melakukan perbaikan mendasar terhadap Kurikulum 2013 agar dapat dijalankan dengan baik oleh guru-guru kita di dalam kelas, serta mampu menjadikan proses belajar di sekolah sebagai proses yang menyenangkan bagi siswa-siswa kita.

Secara lengkap dapat didownload di bawah ini:

SURAT MENTERI atau untuk versi docx disini Surat Mendiknas Anies B ttg Pelaksanaan Kurnas 2013

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.