Guru = Profesional?

“Di dunia ini hanya ada 2 jenis profesi, yaitu: Pendidik (baca : Guru) dan profesi lainnya”.  Demikian slogan seorang peserta yang fanatik dalam suatu seminar pendidikan. Pendapat tersebut menarik untuk dicermati, karena menurut penulis kecenderungan memilih profesi guru justru kurang diminati dewasa ini.  Menjadi Guru bukan lagi pilihan utama bagi kebanyakan orang sebagai karir yang menjanjikan.  Generasi masa kini, terutama di kota-kota besar cenderung memilih profesi yang “lebih menjanjikan”.  Tidak lepas dari kenyataan yang ada, kebanyakan guru karena digaji “pas-pasan” merasa tidak perlu bertindak secara profesional dalam bidangnya.  Alasannya “gimana mau profesional, bila urusan perut saja masih kurang”. “Trenyuh” mendengar penyataan itu keluar dari mulut guru yang merupakan ujung tombak proses “mencerdaskan kehidupan bangsa” di negara kita.

Disadari atau tidak setiap pekerjaan yang dilakukan, apapun itu menuntut profesionalisme orang yang menekuninya.  Karena hanya mereka yang profesional dalam bidangnya, yang dihargai dengan semestinya.  Profesi guru demikian pula.  Terlepas dari minimnya gaji guru, sepatutnya setiap guru mesti bertindak profesional.  Menilik kata Profesional yang artinya “memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya”,  sudah semestinya para guru yang bertahun-tahun menjalani pengemblengan melalui pendidikan dan pelatihan guna mencapai profesionalisme yang diinginkan, dalam menjalankan profesinya tidak tendeng aling-aling, tetapi melakukannya dengan sungguh-sungguh.  Jika demikian pertanyaannya, bagaimana menjadi guru yang profesional?

good-teacher

Menurut penulis ada beberapa hal yang mesti dilakukan guru agar layak menyandang sebutan profesional.

Pertama, mengubah paradigma.

Siapa yang mesti diubah ? Pemerintah, masyarakat dan yang paling penting adalah pribadi guru sendiri. Guru sebagai sebuah profesi yang bertugas mendidik putra-putri bangsa menjadi orang yang terpelajar selayaknya dihargai dan ditempatkan secara lebih pantas oleh masyarakat luas. Walau kelihatannya tidak populer, pemerintah harus memperhatikan nasib guru. Kebijakan mempermudah guru untuk mendapatkan akses perumahan, pelayanan kesehatan, dll dapat meningkatkan kualitas hidup para guru kita. Masyarakat pun perlu berpartisipasi dalam kesejahteraan para “Pahlawan tanpa tanda jasa” itu, misalnya: dengan memberikan potongan harga bagi guru dalam berbelanja barang-barang kebutuhan pokok di toko-toko tertentu.  Jika traveling dengan angkutan, baik itu darat, laut, dan udara mendapatkan potongan tertentu.

Setiap orang yang bekerja sebagai pendidik harus memiliki kebanggaan sendiri akan keluhuran profesinya. Karena tanpa guru, siapa yang diandalkan untuk mendidik anak bangsa kita?.  Dalam era global sekarang ini, cara pandang seorang guru yang disebut profesional mesti berbeda dan harus nampak dalam perbuatannya.  Walau digaji “pas-pasan”, tidak perlu bersunggut-sunggut, tetapi berikan pelayanan yang prima kepada setiap peserta didik.  Sikap seorang profesional sejati akan nyata terlihat dalam setiap aspek kehidupannya.  Ambil contoh Ron Clark dalam film “The Ron Clark Story” yang dengan sukrela dan sukacita mengunjungi rumah setiap nara didiknya untuk mengetahui kondisi keluarga mereka masing-masing dan memberikan pengertian akan pentingnya pendidikan bagi masa depan seorang anak.

Kedua, Seorang guru adalah seorang pembelajar.

Tidak pernah ada kata berhenti dan puas belajar bagi seorang guru profesional.  Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang demikian pesat, mau tidak mau menuntut guru berpacu mengikutinya.  Kalau tidak cepat berpacu, maka guru tersebut pastilah akan tertinggal.  Buku, majalah, internet (web, blog, milis, forum, dsb), komputer, TV, VCD/DVD, lokarya, seminar, diklat, dsb. merupakan media belajar yang tidak pernah habis untuk dikaji, digali, dan ditekuni dengan sungguh-sungguh.

Ketiga, Guru profesional harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan peserta didiknya.

Perbedaan usia, budaya, dan latar belakang pendidikan antara guru dengan peserta didik, kadang menjadi hambatan dalam mengkomunikasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, guru mesti mampu menyiapkan serta menyajikan bahan pelajarannya dalam bahasa yang sederhana, tanpa meninggalkan unsur kreatif, inovatif, serta selalu berorientasi kontekstual.  Bahan pembelajaran yang disiapkan guru harus dikaitkan dengan situasi dunia nyata peserta didik serta penerapannya harus kongkrit dalam kehidupan siswa.

Keempat, sekiranya mungkin dalam pembelajaran guru harus melibatkan sebanyak mungkin indra manusia, sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) menjadi lebih efektif-efisien.

Dalam buku Quantum Teaching (Bobby de Potter, et al., 2000) dikatakan bahwa manusia belajar melalui:
– 10 % dari apa yang kita baca;
– 20 % dari apa yang kita;
– 30 % dari apa yang kita lihat;
– 50 % dari apa yang kita lihat dan dengar;
– 70 % dari apa yang kita katakan;
– 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.

Terlalu seringnya hanya metode ceramah yang digunakan guru dalam  KBM perlu ditinjau ulang.  Bukannya tidak perlu, melainkan guru sebagai “manajer pembelajaran” perlu melakukan variasi metode dalam KBM.  Kegiatan tersebut selain akan mendorong minat siswa belajar, juga sekaligus membantu proses daya tangkap siswa.  Melalui hal itu, guru akan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan tidak pernah terlupakan bagi peserta didiknya.

Kelima, guru adalah teladan hidup nyata bagi murid-muridnya.

Pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” menggambarkan pentingnya teladan hidup bagi seorang pendidik. Di dalam mengajar sebenarnya seseorang belajar, demikian pula yang seharusnya terjadi dalam kehidupan seorang guru. Apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan seorang guru boleh jadi merupakan standar bagi siswa yang dididiknya. Pengaruh teladan diceritakan secara lugas oleh Andar Ismail (1997) Dalam bukunya: Selamat Menabur.

Seorang anak tergopoh-gopoh memohon pendetanya untuk datang ke rumah dan mendoakan yang sakit. Maka bergegaslah mereka pergi. Setibanya di tempat yang dituju pendeta itu menjadi kecewa sebab ternyata yang sakit itu hanyalah seekor kucing. Pendeta itu merasa kesal. Di depan kucing itu berdoalah pendeta itu sebagai berikut: “ Hai kucing, kalau mau hidup hiduplah; kalau mau mati matilah. Amin.” Anak itu merasa sangat berterima kasih bahwa pendetanya datang dan mendoakan kucing kesayangannya yang beberapa hari kemudian betul menjadi sembuh. Sebagai tanda terima kasih anak itu membuat sebuah gambar. Dihantarnya gambar itu ke rumah pendeta. Kebetulan pendeta itu sedang sakit. Bertanyalah anak itu, ”Bolehkah saya berdoa untuk bapak?” Tentu saja boleh”, jawab pendeta itu. Maka dengan khidmat dan penuh kesungguhan berdoalah anak itu, “Hai pendeta, kalau mau hidup, hiduplah; kalau mau mati, matilah. Amin”.

Peserta didik akan mencontoh apa yang dilakukan oleh gurunya.  Sebagai guru profesional, tingkah laku kita selayaknya digugu dan ditiru oleh setiap nara didik, tidak hanya di depan kelas saat mengajar, melainkan dalam keseluruhan aspek hidup sebagai seorang guru.

Semoga semua kita yang dipanggil guru / pendidik dapat bersungguh-sungguh dalam menjalankan profesinya serta menjadi seorang guru yang profesional.

One thought on “Guru = Profesional?

  1. menurut saya sih kita lebih senang menuntut guru agar profesional dalam menjalankan tugas, tapi saat membayar mereka, kita lebih suka menganggap mereka sebagai tenaga pendidik yang bertugas penuh mencerdaskan anak bangsa dan bertanggung jawab terhadap moral generasi muda yang penuh keihklasan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s