Quo Vadis PERPUSTAKAAN?

Generasi yang lahir pada tahun 1980-an (1981 – 1995) dikenal sebagai  generasi Y.  Mereka adalah generasi yang melek teknologi.  Sangat adaptif terhadap teknologi baru, terutama di bidang ICT mulai dari penggunaan perangkat elektronik seperti handphone, perangkat audio – video digital seperti ipod, iphone, ipad, sampai dengan game digital (Play Station, Wii, Nintendo DS, Xbox) serta internet.  Berbeda dengan generasi X yang lahir antara tahun 1965 – 1980 dimana perkembangan ICT belum begitu pesat. Jika dibandingkan, tentu kalah canggih dibandingkan generasi Y.   Namun demikian … generasi yang lahir pada mulai tahun 1996 sampai menjelang era milenium baru  dikenal dengan sebutan digital native.  Mereka bahkan lebih canggih lagi. Menurut hasil survey yang dilakukan http://www.netday.com di Amerika Serikat, mereka yang  digital native tidak hanya menggunakan teknologi internet secara berbeda, namun juga melakukan pendekatan dan menjalani kehidupan mereka sehari-hari secara berbeda pula. Generasi digital native sebenarnya bukan hanya menggunakan satu layanan konten saja. Namun  lebih dari itu, mereka juga bisa berkomunikasi dan berinteraksi melalui jejaring sosial seperti twitter, Instagram, facebook, Whats App, dan lain-lain.

Kalau boleh bertanya, kapan terakhir kali Anda membeli perangko ? Apakah Anda masih menggunakan disket untuk menyimpan data-data digital Anda?, atau apakah Anda menggunakan kamera Analog (misal merek Kodak) untuk “selfie” ? atau Apakah Anda masih menonton video dalam format Betamax, laser Disc atau VCD? Apakah Anda masih memainkan game dalam perangkat Atari?  Saya percaya, tentunya Anda tidak lagi menggunakan perangkat-perangkat tersebut.  Anda sudah beradaptasi menggunakan teknologi terkini untuk belajar, bekerja dan bersosialisasi.  Nah …  termasuk  pula dengan cara kita berkomunikasi. Telah terjadi perubahan pada cara kita berkomunikasi  misal dari surat-menyurat secara analog menjadi korespondensi via e-mail dan chatting menggunakan layanan Whats App, Line, dsb. Atau apakah Anda sudah menggunakan layanan video conference Skype atau seperti yang terdapat di Google Apps – Hangout untuk berkomunikasi secara aktif dan intensif?

Cara belajar kita pun mulai mengalami perubahan dari membaca buku analog ke penggunaan perangkat-perangkat digital.  Laptop, tablet dan Smart Phone  atau phablet sekarang ini sudah menyertai peserta didik dalam proses pembelajaran.  Kemudahan mencari suatu materi pembelajaran menggunakan mesin peramban (search engine) seperti google search atau bing, dapat dibandingkan dengan kesukaran mencari katalog-katalog buku analog di perpustakaan.  Apalagi jika ternyata katalog-katalog tersebut ternyata tidak “up to date”.  Kekurangan-kekurangan yang terdapat di perpustakaan analog mungkin dapat menjadi penyebab kurangnya minat membaca buku di perpustakaan bagi siswa.

Buku (analog) sebagai sarana utama belajar bagi siswa, juga sudah waktunya mengalami perubahan.  Dahulu buku hanya dikenal secara “analog” (terbuat dari kumpulan kertas-kertas), pada era digital sekarang ini buku pun berevolusi menjadi buku digital atau dikenal dengan BE = buku elektronik.

Keberadaan perpustakaan yang lebih banyak menyediakan buku analog menjadi kurang relevan, apalagi jika dikaitkan dengan isu pelestarian lingkungan hidup.  Berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk mencetak sebuah buku?.  Sudah selayaknya perpustakaan “analog” juga  “ber-mutasi” dan “ber-evolusi” menjadi perpustakaan digital, yang menyediakan perangkat digital seperti digital reader dan buku-buku digital bagi para pembacanya.  Tentu saja di perpustakaan analog telah tersedia microfilm, microfiche, tape audio, CD-A, CD-ROM, VCD, dan DVD.  Tetapi jumlahnya tentu tidaklah sebanyak buku analog.

Salah satu perangkat ebook reader

Project gutenberg dalam situsnya http://www.gutenberg.org menyediakan puluhan ribu judul buku digital yang dapat dibaca secara online maupun dapat diunduh secara gratis.  Atau jika tidak memungkinkan untuk mengunduh (karena keterbatasan koneksi internet), maka dapat pula request ebook dalam bentuk CD / DVD – ROM untuk dikirimkan.

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) ternyata cukup tanggap terhadap perkembangan iptek.  Dengan meluncurkan buku-buku elektronik atau yang dikenal dengan BSE – Buku Sekolah Elektronik.  Buku-buku pelajaran dalam format Pdf – Portabel Document Format dari level SD  sampai dengan SMA & SMK yang dapat digunakan oleh semua siswa secara bebas.  Buku-buku tersebut dapat disimpan dalam bentuk DVD – ROM atau dapat dipindahkan (dicopy) ke dalam hardisk PC / laptop / tablet / phablet, sebagai bagian dari dokumen pembelajaran digital bagi guru dan siswa.

Mengingat keterbatasan (dukungan, daya, & dana) percetakan buku analog, maka  BSE dapat digunakan secara meluas, asalkan guru / siswa memiliki perangkat pembaca e-book reader,  tablet, dan phablet.  Untuk menjadikan BSE lebih menarik, kita berharap Kemdikbud juga menfasilitasi pembuatan BSE non pelajaran, seperti buku buku dongeng, legenda, fabel atau buku-buku sastra, buku referensi (seperti halnya project gutenber) agar kegiatan pendidikan melalui membaca dapat lebih terjangkau ke semua golongan masyarakat.  Untuk itu, dukungan pemerintah pusat melalui Kemdikbud sangat dinantikan masyarakat luas.  Memang dibutuhkan dana besar diawal project, namun demikian jika melibatkan masyarakat dan kaum pendidikan pastilah niat baik tersebut dapat terwujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s