Sekolah Dambaan Masyarakat

Abstrak

Masih banyak masyarakat yang keliru memahami tujuan pendidikan di sekolah dan tidak atau kurang memperhatikan tujuan pendidikan nasional secara utuh. Pemahaman yang demikian juga mengakibatkan motivasi orang tua menyekolahkan anaknya dan motivasi anak belajar di sekolah beraneka ragam. Tulisan ini membahas tujuan penyelenggaran pendidikan di sekolah dilihat dari kompetensi yang diharapkan diperoleh peserta didik melalui proses pembelajaran. Setelah menelaah berbagai aspek, tulisan ini menyimpulkan tujuan sekolah sesungguhnya serta hal-hal yang perlu dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan itu. Gagasan penulis juga dilengkapi dengan sejumlah saran kepada sekolah dan guru untuk memenuhi harapan masyarakat termasuk harapan anak untuk memperoleh kecakap hidup yang diperlukan dalam abad 21 ini.

Kata-kata kunci: Tujuan pendidikan, sekolah, tujuan sekolah, keterampilan hidup

Most Desired School

Abstrack

Many people still misunderstand the educational objectives at school and they neglect the complete objectives of national education. Such misunderstanding rises various motivations of the parents to send their children to school and also the children’s motives to go to school. This article discusses the school objectives and the competences expected by the children they could obtain through instructional process at school. The critical analysis in the discussion has been able to identify the real school objectives and how the school should perform its tasks to achieve the objectives. The conclusion is also completed with a set of suggestions to schools and the teachers to meet the the society’s expectation that the schools should be able to equip the children with life skills required in the 21st century.

Keywords: Educational objectives, school, school objectives, life skills

Pasal 31 UUD 1945 serta kebijakan Pemerintah Indonesia menerapkan Program Wajib Belajar Pendidikan Wajar menunjukkan pentingnya belajar di lembaga pendidikan. Akan tetapi sebenarnya di pihak lain masih terdapat berbagai pertanyaan yang perlu didiskusikan.  Mengapa kita perlu sekolah? Haruskah seorang anak repot-repot pergi ke sekolah? Padahal mereka dapat belajar dari rumah. Pada era sekarang ini, yang dibutuhkan hanyalah sebuah komputer jinjing atau komputer tablet ataupun perangkat teknologi canggih lain dengan sambungan internet. Tinggal googling maka dalam sekejap mata, semua ilmu dan pengetahuan yang hendak dicari akan segera muncul di hadapan kita. Apakah hal yang demikian dapat disamakan dengan belajar di sekolah? Dapatkah komputer tablet menggantikan fungsi sekolah? Jikalau belajar dapat difasilitasi dengan perangkat gadget, mengapa mengapa sampai saat inipun kita masih perlu sekolah?

Setiap hari sekolah, dari Senin sampai Jumat, anak saya yang berusia 10 tahun membawa pulang Lembar Kerja Siswa (LKS). Jumlahnya 2 – 3 lembar atau bahkan lebih LKS beberapa mata pelajaran. Kalau dijumlahkan, dalam satu minggu ia dapat menyelesaikan 15 lembar LKS. Dalam satu bulan 60 Lembar LKS dan dalam satu semester ia bisa saja mengerjakan sampai 240 LKS. Secara sederhana, kalau ditanyakan kepadanya, apakah makna sekolah baginya, ia akan menjawab ke sekolah sama dengan mengerjakan LKS atau ke sekolah sama dengan membawa pulang pekerjaan rumah dalam bentuk LKS.

Menurut Wolk (2007: 649 – 650), ketika sekolah memberikan pengalaman kepada anak, seperti: mengisi titik-titik kosong dalam LKS, menuliskan kembali fakta yang ditemukan dalam buku pelajaran, menulis karangan lima paragraf, mengerjakan tes pilihan ganda, dan sesekali membuat kliping, ketika mereka tidak diberikan peluang untuk menuangkan gagasan aslinya sendiri, jelas kita akan menghasilkan anak yang kelak berkembang menjadi seorang dewasa yang tidak mampu berpikir mandiri. Hal itu tidak membuat kita heran, karena sekolah yang “pasif” akan menghasilkan generasi yang juga pasif. Lebih lanjut, Wolk (2007: 649) memaparkan bahwa pada masa sekarang ini, kita hidup dalam sebuah sekolah “khayalan”.  Apakah kita benar-benar percaya bahwa sekolah akan menginspirasi anak kita untuk menjalani kehidupan dengan baik, penuh dengan imajinasi dan empati, serta bertanggung jawab sosial? Orang yang biasa datang ke sekolah akan melihat langsung bahwa buku pelajaran sama dengan kurikulum. Peserta didik kelas 5 Sekolah Dasar (SD) diharapkan untuk membaca 2.500 halaman buku pelajaran dalam setahun. Sampai dengan tingkat Sekolah Laanjutan Tingkat Atas (SLTA) – peserta didik diharapkan untuk membaca dan belajar 30.000 halaman buku pelajaran. Fakta tersebut sebagian besar akan dilupakannya pada saat mereka menonton televisi atau menggunakan perangkat smart phone-nya setelah pulang sekolah. Akankah siswa yang membaca 30.000 halaman buku pelajaran dan yang 12 tahun duduk di bangku sekolah akan menginspirasi mereka sendiri untuk menjadikannya gemar membaca, seorang pembelajar, atau seorang pemikir?

Jauh dari yang kita harapkan bahwa mereka akan tekun membaca untuk belajar, namun dikhawatirkan anak-anak jadi membenci kegiatan membaca. Jadi tidaklah mengherankan bahwa anak-anak kita menjadi kurang suka membaca. Atau lebih tepatnya tidak suka membaca buku pelajaran. Mereka juga kurang suka bersekolah, karena ke sekolah sama dengan mengerjakan tugas-tugas yang tidak jarang sangat membebani.

Sekolah lebih menghendaki peserta didik menjadi seorang akademisi yang tinggi ilmunya dibandingkan menjadi seorang humanis yang berjiwa sosial. Orang tuapun kadang salah kaprah, menyekolahkan anaknya, agar kelak menjadi manusia yang hanya pintar secara akademis. Hak anak untuk bersosialisasi, bermain, dan mengembangkan minat serta bakat, menjadi kurang diperhatikan dan difasilitasi oleh pihak sekolah. Padahal dengan bermain dan berinteraksi sosial, peserta didik akan menjadi kreatif. Ke sekolah hanya demi tujuan akademis, padahal manusia dikenal sebagai homo socius dan homo ludens – makhluk hidup yang berjiwa sosial dan gemar bermain. Tidak salah, jika tujuan kita sekolah adalah menjadi pintar, namun itu seharusnya bukanlah tujuan utama.

Pintar saja tidak cukup untuk menghan- tarkan peserta didik menjadi warga negara dan warga masyrakat yang mandiri serta bertang- gung jawab.  Sebuah studi yang dilakukan Bank Dunia (2005: 71) menunjukkan kesenjangan pengetahuan antara materi pelajaran yang sedang diajarkan dan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan individu untuk dapat bertahan hidup di dunia global. Studi  yang dilakukan Bank Dunia tersebut menyoroti kurikulum sekolah menengah yang abstrak dan asing bagi kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat dunia, namun hal tersebut justru yang memegang peranan penting untuk studi lanjut ke universitas dan yang menjadikan mereka pekerja-pekerja profesional. Abstrak, berpusat pada fakta, pengetahuan yang tidak konsteksual  itulah  yang terdapat dalam kurikulum pendidikan menengah. Hal tersebut merupakan salah satu hambatan terbesar demi suksesnya  pendidikan menengah melalui reformasi kurikulum (Bank Dunia, 2005: 77- 78).

Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, menjadikan perkembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan lebih cepat dibandingkan pada masa lalu.  Demikian pula dengan perkembangan internet yang memudahkan akses bagi penggunanya.   Dahulu, sekolah dikatakan sebagai pusat ilmu pengeta- huan, karena dari sanalah seorang pelajar dapat memperoleh dan menimba ilmu pengetahuan. Namun, tidaklah demikian sekarang ini.  Semua pelajar  dapat  mengakses  internet  untuk memperoleh dan menimba berbagai macam ilmu pengetahuan.   Sekolah dan guru bukan lagi pusat ilmu.  Oleh karena itu, para pendiri sekolah perlu  memikirkan  ulang  tujuan  utama membangun sekolah. Di samping itu perlu digali dan dipikirkan kembali  mengapa anak perlu sekolah, apa yang seharusnya diajarkan di sekolah, dan bagaimana peran guru di sekolah agar dapat menjadi pendidik yang handal.

 Pembahasan

Kecakapan Hidup yang Dipelajari di Sekolah

Kembali ke pertanyaan – mengapa kita perlu sekolah? Cuban (2001) seorang professor di bidang sejarah pendidikan dari Universitas Stanford mengatakan bahwa sekolah umum di Amerika Serikat yang didukung oleh pajak sejak 150 tahun yang lalu, tidak didirikan untuk memastikan pekerjaan bagi lulusannya atau untuk regenerasi di keluarga dan gereja. Namun, sekolah dibentuk untuk memastikan bahwa anak-anak akan tumbuh menjadi seorang dewasa yang melek huruf, yang dihormati otoritasnya, mampu membuat keputusan dengan pertimbangan yang matang, dan dapat menerima perbedaan pendapat, serta dapat memenuhi kewajibannya sebagai warga negara

yang baik dan mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sekolah tidak didirikan hanya untuk mencetak para sarjana yang mampu mencari nafkahnya sendiri, tetapi untuk mengajar mereka bagaimana hidup. Tugas utama sekolah dan para pendidik di masa lalu dan sekarang ini ialah memper- siapkan peserta didik menjadi warga negara yang mandiri, dapat membuat keputusan dengan bijaksana, mampu mempertahankan apa yang telah mereka putuskan, serta menghormati aturan hukum.

Senada dengan pendapat Cuban, Wolk (2007: 650) menyatakan kecenderungannya sekarang ini, anak pergi ke sekolah untuk belajar agar di kemudian hari menjadi pekerja. Sebagian besar waktu di sekolah merupakan persiapan untuk menjadi pekerja atau pemilik perusahaan. Hal itu tergantung kepada keberuntungan kita berada di “mesin” pemilahan yang dinamakan sekolah. Jadi bagi sebagian besar masyarakat, ke sekolah kelak akan jadi pekerja. Mengapa bersusah payah sekolah, mengeluarkan banyak biaya dan menghabiskan sebagian besar masa kanak- kanak dan remaja untuk menjadi seorang “buruh” professional?

Ternyata selama ini, sebagian besar masyarakat kita telah salah menilai dan menyederhanakan masalah bahwa anak-anak sekolah agar kelak dapat menjadi seorang pekerja atau seorang profesional. Itulah salah satu sebab mengapa orang-orang Asia kurang kreatif dibandingkan masyarakat di Barat sana. Menurut Rudowicz & Ng (2003: 301 – 302) bagi kebanyakan orang Asia dalam budayanya, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki seperti: rumah, mobil, uang dan harta lainnya. Passion atau rasa cinta terhadap sesuatu kurang dihargai. Akibatnya bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, pengacara, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seseorang untuk memiliki kekayaan yang banyak. Hal kedua menurutnya, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita novel, sinetron dan film yang bertemakan orang miskin menjadi orang kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenisnya itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir atau diterima sebagai sesuatu yang wajar.

Pemikiran Cuban (2001), yang diperkuat oleh Binkley, et al (2012: 18-19), menyatakan ada lebih kurang 10 (sepuluh) kecakapan hidup atau keterampilan abad 21 yang semestinya dimiliki oleh peserta didik jika ingin berhasil dan adaptif di masa yang akan datang. Kecakapan hidup atau keterampilan itu dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian besar, sebagai berikut: (1) Cara berpikir, yang meliputi: kreativitas dan inovasi, berpikir kitis – pemecahan masalah – pengambilan keputusan, belajar bagaimana “belajar” – meta kognisi, (2) Cara bekerja, yang meliputi: komunikasi, kolaborasi (team work), (3) Perlengkapan untuk bekerja, yang meliputi: melek informasi, dan melek Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), (4) Hidup di dalam dunia, yang meliputi: pemahaman akan kewarganegaraan (lokal maupun global), karir dan kehidupan, serta tanggung jawab pribadi dan sosial yang di dalamnya mencakup kecakapan pemahaman akan budaya. Jika keterampilan itu diajarkan dan dilatihkan di sekolah kita, maka niscaya kita tidak hanya akan menuai jenius-jenius di bidang ilmu pengetahuan dan akademik, namun juga akan melahirkan generasi yang humanis yang paham akan kewajibannya sebagai warga negara, yang bertanggung jawab sosial dan yang tentu saja diharapkan sukses dalam karir dan kehidupan. Mereka mampu belajar bagaimana belajar, kreatif dan inovatif serta paham bagaimana menggali dan mengolah informasi secara mandiri, bukan sekedar menjadi siswa yang pasif yang dijejali fakta-fakta keilmuan.

Menurut Robinson (2000), belajar yang kreatif dimungkinkan dengan pengajaran yang kreatif. Ini bukan suatu proses yang mudah dan memerlukan keterampilan yang canggih dari para guru. Robinson berargumentasi bahwa diperlukan perubahan penting pada kurikulum, penilaian dan pada pelatihan guru untuk mendukung hal ini. Kuncinya ada di guru. Jadi jika guru ingin peserta didiknya kreatif, maka itu  harus  dimulai  dari  para  guru  yang selayaknya menjadi pengajar dan pendidik yang kreatif. Peserta didik juga diharapkan mampu fokus akan cara bekerja dengan komunikasi dan kolaborasi, yang tidak hanya dilakukan seorang diri atau secara individual. Sudah waktunya bagi guru untuk melakukan refleksi akan cara mengajar dan menerapkan pembelajaran di sekolah. Bukan sekedar pembelajaran yang mengaktifkan kecakapan individu, melainkan yang mampu mengembangkan pembelajaran secara komunikatif dan kolaboratif serta mengembangkan team work dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Secara sederhana Suto (2013: 11) mencoba memetakan Kecakapan abad 21 ke dalam taksonomi Bloom edisi revisi oleh Anderson dan Krathwohl (2001) dalam bentuk bagan skematik pada gambar 1.

Bloom Revissed

Gambar 1: Kecakapan abad 21 ke dalam taksonomi Bloom

(Edisi revisi Anderson dan Krathwohl, 2001)

Jika diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa tidak ada satupun kecakapan abad 21 yang berada di wilayah pengetahuan- nya taksonomi Bloom revisi. Hal ini menarik untuk dicermati. Menurut Suto (2013: 11), itu terjadi karena “pengetahuan” yang sifatnya pengulangan atau berbentuk hapalan tidak perlu lagi dikerjakan oleh manusia. Hal itu dapat dilakukan oleh mesin, robot, dan komputer.

Richmond (2007: 6) menyatakan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan akan program pendidikan Perdana Menteri Goh Cok Tong, yaitu “Thinking School – Learning Nation”, para guru di Singapura telah bergeser peran- nya. Dari yang secara tradisionalnya, penyebar ilmu pengetahuan menjadi peran fasilitator dan pelatihan (coaching). Tugas utamanya memberikan support bagi perkembangan pengetahuan peserta didik. Itu berarti mereka harus menggunakan strategi pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk secara aktif mengolah data dan untuk berperan serta lebih dalam pembelajaran mereka sendiri. Namun demikian, secara kontekstual guru-guru dan peserta didik kita masih banyak yang berkutat di wilayah “pengetahuan”-nya taksonomi Bloom tersebut. Pada umumnya guru masih terpaku mengajarkan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Sosiologi, Ekonomi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya dengan metode ceramah dan penghafalan bukan dengan pemahaman atau menggunakan metode lain lagi yang berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari taksonomi Bloom. Bahkan Biologi yang merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pun diajarkan dengan cara itu.

Fenomena seperti yang telah diuraikan menyebabkan Wolk (2008: 117) mengatakan alasan mengapa siswa tidak belajar sebagian besar dari apa yang seharusnya ia dapatkan di sekolah. Proses pembelajaran tidak terjadi seperti yang diharapkan terutama karena model pembelajaran abad ke-19 yang masih mendominasi cara mengajar guru di sekolah. Tanda dan gejala mengajar dengan model itu sudah jelas. Sepanjang hari di sekolah siswa duduk manis di mejanya, gurulah yang banyak berbicara, buku pelajaran dan LKS sebagai sumber utama pembelajaran, dan penilaian yang fokusnya pada tes dan kuis. Menghafal tidak tabu diajarkan di sekolah, tetapi berhenti hanya pada level itu, hanya akan membatasi ruang lingkup belajar dan menjadikan pembelajaran tidak menarik dan mendalam serta terkesan pembelajaran hanya diarahkan untuk teaching to the test. Belajar kemudian akan diberikan tes atau ulangan untuk membuktikan bahwa peserta didik itu sudah menguasainya. Contoh: Ibu kota Indonesia = Jakarta, Ibu kota India = New Delhi, Ibu kota Jepang = Tokyo, dst. Berapa banyak lagi ibu kota negara yang harus dihafalkan? Hal inilah salah satu sebab pemicu dominannya penggunaan soal-soal pilihan ganda sebagai bentuk penilaian di sekolah-sekolah.

Rudowicz & Ng (2003: 301 – 302) menyatakan bagi orang Asia, kebanyakan pendidikan identik dengan hafalan berbasis kunci jawaban bukan pada pengertian. Ujian Nasional (UN), tes masuk perguruan tinggi, dll semua berbasis hapalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hapal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus tersebut.  Karena berbasis hapalan, peserta didik di sekolah Asia dijejali sebanyak mungkin materi pelajaran. Mereka dididik menjadi “jack of all trades, but master of none”, yaitu tahu sedikit tentang banyak hal, akibatnya tidak menguasai apapun. Fakta-fakta ilmu yang jumlahnya “segudang” yang ditanamkan bukan konsep dan prinsip penting dalam bidang keilmuan itu. Jadi jangan heran kalau guru mengeluh tidak memiliki cukup waktu mengajar, karena bahan atau materi ajarnya berupa segudang fakta ilmu dan semua materi buku teks pelajaran yang siap dijejalkan di kepala para peserta didik.

Ada pepatah Inggris yang mengatakan less is more. Sedikit akan mendapatkan lebih. Sejatinya manusia yang sukses adalah mereka yang mengetahui sedikit tetapi mendalam. Faktanya dapat dilihat di Finlandia. Menurut Siyamta (2014: 28 – 29) konsep pendidikan Finlandia adalah “Test less, Learn more”. Jam sekolah siswa di sana jauh lebih sedikit dibandingkan jam sekolah di banyak Negara. Peserta didik di negara Skandinavia itu, hanya belajar 30 jam dalam satu minggu di sekolah. Sekolah pun mulai pada usia tujuh tahun. Anak-anak di Finlandia tidak diizinkan untuk bersekolah sebelum usia tujuh tahun. Taman Kanak-kanak (TK) di Finlandia tidak membebankan pelajaran pada anak-anak, karena menghormati masa kanak-kanak dan hak mereka untuk bermain. Lagi pula sistem pendidikan di Negara Finlandia tidak membebankan banyak tugas pada siswa, karena mereka menganut sistem homework doesn’t make you smart. Sangat berbeda dengan sistem pendidikan di Amerika yang memberikan PR (pekerjaan rumah) selama 2 – 3 jam per hari, namun Finlandia hanya memberlakukan PR maksimal 30 menit per hari. Metode pembelajaran bukan ceramah, melainkan dengan penerapan belajar aktif. Suasana dan proses pembelajaran di sekolah menyenangkan, metode dikte atau menyuruh dihilangkan, karena akan membuat peserta didik tertekan. Guru tidak memberikan kritik terhadap pekerjaan siswa dengan kata “Kamu salah”, karena hal tersebut akan membuat siswa malu, sehingga menghambat proses pemahamannya.  Finlandia juga tidak mengenal sistem ujian nasional. Jika ada siswa yang tertinggal kelas, ada satu guru yang ditugaskan untuk membantu siswa mengejar ketinggalan. Hal-hal di atas sudah selayaknya dipertim- bangkan para pakar dan pengambil kebijakan dalam dunia pendidikan, ketika menyusun dan mengembangkan kurikulum serta merancang implementasinya. Ada baiknya mereka belajar dari negara Skandinavia itu.

Sebagai guru yang profesional, harus mau dan terus belajar serta mengembangkan diri. Mencoba meramu atau menerapkan pembel- ajaran dengan model atau metode-metode lain yang lebih menarik namun tetap konteksual. Contoh: salah satu topik atau materi ajar pelajaran IPS atau pun PPKn untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), yaitu tentang keluarga. Anak-anak diberikan tugas membuat autobiografi keluarga masing-masing. Mereka perlu melakukan kajian latar belakang, silsilah dan asal usul keluarga masing-masing. Peserta didik kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan atau laporan kajian yang dapat dilengkapi dengan foto anggota-anggota keluarga. Setelah itu mereka harus mempresen- tasikannya di depan kelas. Didengarkan dan diperhatikan oleh seluruh teman-temannya di kelas tersebut. Tujuannya bukan sekedar menghafal siapa nama-nama anggota keluarga atau apa peran masing-masing anggota keluarga itu. Namun aktivitas ini mencoba memper- kenalkan keberbedaan dan keragaman keluarga serta budayanya. Tanpa disadari, mereka akan menemukan fakta bahwa ada keluarga-keluarga dari suku Jawa, suku Batak, suku Sunda, suku Tiong Hoa, suku Dayak, suku Menado, suku Ambon, suku Papua, dll. Peserta didik akan menemukan ternyata setiap keluarga itu berbeda dan unik. Aktivitas belajar ini, mencoba menggali ragam kemanusiaan secara lebih mendalam, sehingga mereka dapat menghargai sesama manusia dan kebhinekaan di nusantara tercinta – Indonesia. Memang dibutuhkan waktu pembelajaran yang lebih lama untuk menerap- kannya dibandingkan dengan memberikan catatan atau ringkasan nama-nama anggota keluar- ga, fungsi dan peran masing-masing untuk dihapalkan dan nanti keluar saat ulangan harian.

Pembelajaran dengan metode proyek tersebut  jauh  lebih  menarik,  menantang, kontekstual, mendalam, dan sekaligus bermak- na bagi peserta didik. Contoh lain dari pelajaran Matematika SD. Untuk topik penjumlahan bilangan bulat. Guru sering membiasakan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti 4 + 3 = ….. atau 5 + 10 = ….., dsb. Soal-soal tersebut tidak salah. Namun, hanya akan mendorong siswa hanya menjawab dengan satu kemungkinan jawaban benar. Peserta didik kurang tertantang. Pembiasan itu kurang dapat membuat siswa kreatif dan termotivasi belajar lebih dalam. Ada baiknya soal-soal tersebut dimodifikasi. Guru dapat membuatnya lebih menantang dan menarik. Coba buatlah 5 macam penjumlahan bilangan bulat yang hasil akhirnya adalah 10. Maka peserta didik dapat menjawab secara bebas, contoh: 5 + 5 = 10; 2 + 8 = 10; 3 + 7 = 10; 4 + 6 = 10; 1 + 9 = 10, dst. Atau lebih dalam lagi 1 + 2 + 7 = 10; 3 + 5 + 2 = 10, dst. Setiap kali membuat soal-soal untuk kuis ataupun ulangan harian, soalnya dibuat lebih banyak dari yang seharusnya dijawab siswa. Contoh: siswa diminta menjawab 10 soal dari 15 soal yang disediakan oleh guru. Dengan demikian peserta didik merasa lebih bebas menentukan dan tidak tertekan saat mengerjakan soal-soal tersebut.

Terdapat 3 kecakapan hidup abad 21 lainnya yang terdapat di luar taksonomi Bloom, yaitu: komunikasi, kolaborasi dan kecakapan (melek) teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK). Untuk TIK memang jelas pada zaman Bloom hidup belum berkembang. Namun komunikasi dan kolaborasi, pada era sekarang ini menjadi kecakapan hidup yang penting untuk diajarkan dan dilatihkan kepada setiap peserta didik. Kenyataan hidup ini mengajarkan, bahwa tidak ada seorangpun yang sukses dengan usahanya seorang diri saja. Melalui komunikasi yang intensif dan kola- borasilah seorang dapat menjadi sukses.  Ambil contoh Sergei Brin dan Larry Page. Mereka berdua sahabat yang bekerja bersama-sama – kolaborasi, membangun search engine atau mesin pencari yang dimulai di sebuah garasi mobil kecil di Menlo Park California. Berusaha melawan kedigjayaan Yahoo yang merupakan mesin pencari nomor satu pada eranya. Perjuangan mereka kemudian membuahkan hasil, karena saat ini – siapa yang tidak mengenal  Google, sebuah mesin pencari di internet yang favorit, sangat sukses, dan mendunia.

 Quo Vadis Kurikulum 2013

Guna melengkapi peserta didik akan kecakapan hidup, maka kementerian pendidikan dan kebudayaan meluncurkan Kurikulum 2013, namun di awal Desember 2014, kita dikejutkan dengan berita pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13) di sekolah-sekolah resmi dihentikan. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebuda-yaan (Permendikbud) No. 160 Tahun 2014 pasal 1 menyatakan bahwa sekolah-sekolah yang baru satu semester melaksanakan Kurikulum 2013, diminta kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai semester kedua Tahun Pelajaran 2014/ 2015, sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk melaksanakan K-13. Keputusan yang sulit untuk diambil, namun tentu ada penyebabnya. Beberapa kalangan pengamat pendidikan menyatakan bahwa konsep yang ditawarkan K-13 sudah bagus, namun substansi masih perlu diperbaiki. Implementasinya pun dinilai terlalu prematur, sehingga menemui berbagai kendala di lapangan. Kendala ketersediaan dan distribusi buku pelajaran dan baru sedikit guru yang dilatih disinyalir menjadi penyebabnya.

Inti dari implementasi K-13 ialah pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang dikenal dengan 5M (Mengamati, Menanya, Mencoba, Menalar, dan Mengomunikasikan) dan penilaian otentik belum sepenuhnya dikuasai oleh guru. Pada tingkat Sekolah Dasar, pendekatan belajar tematik integratifpun belum dapat diterapkan guru secara optimal. Evaluasi atas kurikulum 2006 belum sepenuhnya dilakukan, namun kurikulum baru K-13 sudah diharuskan diterapkan di semua sekolah pada kelas 1, 2, 4, 5 (SD) kelas 7 dan 8 (SMP), dan kelas 10 dan 11 (SLTA) sejak Tahun Pelajaran 2014/2015. Kesan ketergesa-gesaan inilah yang membuat Menteri Anies Baswedan menghen- tikan pelaksanaan K-13 di sejumlah sekolah.

Namun di sisi lain, sekolah yang sudah 3 semester menerapkan K-13 diminta melanjut- kannya sesuai dengan bunyi pasal 2 dari Permendikbud No. 160 tahun 2014 – Pasal 2 (1) Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah  yang  telah melaksanakan  Kurikulum 2013 selama 3 (tiga) semester tetap meng- gunakan Kurikulum 2013. Sekolah-sekolah tersebut dinilai lebih siap menerapkan K-13, sehingga diminta tetap pada jalurnya. Namun demikian, jika sekolah merasa tidak siap dan belum dapat menerapkannya, maka sekolah dapat berganti melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 dengan melapor kepada dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota setempat. Hal itu sesuai dengan Peraturan Bersama Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidi-kan Dan Kebudayaan Nomor: 5496/C/Kr/2014, Nomor: 7915/D/Kp/2014 tentang Petunjuk Teknis Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum tahun 2013 Pada sekolah jenjang pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

Seberapa bagusnya rancangan kurikulum, kunci suksesnya pendidikan tetap berada di tangan guru. Guru merupakan ujung tombak peningkatan mutu pendidikan. Gurulah yang menjadi garda terdepan pelaksana kurikulum tersebut. Untuk itu diperlukan guru yang bukan saja mau dilatih (pasif), namun juga yang bersedia berlatih (aktif) menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, sehingga mampu berperan secara optimal mencerdas- kan kehidupan bangsa. Jika tidak demikian, pada akhirnya sang guru akan digilas oleh perubahan zaman ini.

Simpulan

Guru pada era sekarang harus mampu mengajarkan, membimbing dan melatihkan sepuluh kecakapan hidup abad 21 kepada setiap peserta didik di sekolah. Bukan sekedar menjejalkan sekumpulan fakta ilmu, namun yang dapat menanamkan konsep serta prinsip-prinsip penting bidang kelimuan. Pesan yang jelas, bagi penyusun kebijakan pendidikan terutama kurikulum pendidikan, jangan lupa memasukkan komponen pelatihan guru sebagai yang utama dalam rancangannya itu, karena bagaimanapun diakhirnya yang berperan aktif adalah guru. Dengan demikian guru akan senantiasa up to date, siap membimbing dan melatih peserta  didik di sekolah.   Proses pembelajaran di sekolahpun harus dirancang dan diciptakan menjadi lebih menarik, menantang, menyenangkan, terkesan bermain – namun sesungguhnya belajar lebih dalam, serta dapat mengikuti perkembangan zaman.

Di sisi lain, peserta didik yang berangkat ke sekolah berharap kelak ilmu dan kecakapan hidup yang dipelajarinya tidaklah mubazir atau sia-sia. Ilmu dan kecakapan hidup yang diperolehnya dapat diterapkan di bidang pekerjaan yang dipilihnya sendiri, bukan karena paksaan atau hanya karena besaran gaji yang akan diterimanya. Namun lebih karena passion atau rasa cintaanya kepada bidang kelimuan yang telah ditekuninya itu. Menjadi profesional di bidang apapun seperti: dokter, jaksa, polisi, pengacara, jurnalis, ataupun seniman, aktor, pematung, musikus, pelukis, sutradara, dsb. Semuanya dilakukan dengan kesadarannya sebagai warga negara dan warga masyarakat yang bertanggung jawab. Ia mampu mandiri dan mengambil keputusan dengan bijaksana. Ia juga menjadi seorang yang humanis yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan kemasyarakatan serta menghormati hukum yang berlaku.

 Daftar Acuan

Binkley, M., et al. (2012). Assessment and teaching of 21st Century Skills, Dordrecht: Springer hal.17 – 66.

Cuban, L. (2001). Why bad reforms won’t give us good schools. American Prospect, 7 November 2001, diakses dari http:// prospect.org/article/why-bad-reforms- wont-give-us-good-schools pada 16 Desember 2014.

Peraturan Bersama Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor: 5496/C/Kr/2014, Nomor: 7915/D/Kp/2014 tentang Petunjuk Teknis Pemberlakuan Kuriku-lum Tahun 2006 dan Kurikulum tahun 2013Padasekolahjenjang pendidikan Dasar dan Pendi-dikan Menengah diunduh dari http://www.kemdiknas. go.id/kemdikbud/ node/3674 pada 6 Januari 2015.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 160 tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Kemententerian Pendidikan dan Kebudayaan, diunduh dari http:// kemdikbud.go.id/ kemd ikbud / s i tes / default / f i les / permendikbud_pemberlakuan_K_061_ hasil_Rapim_11_Des_2014-3.pdf. pada 22 Desember 2014.

Richmond, J. E. (2007). Bringing critical thinking to the education of developing country professionals. International education journal, 8(1), 1-29.

Robinson, K. (2000). Creativity in school and beyond, dalam Lucas, Bill and Toby Greany, eds., Schools in The learning age, Campaign for Learning.

Rudowicz, E., & Ng, T. T. (2003). On Ng’s Why Asians are less  creative  than westerners. Creativity research Jour-nal, 15(2- 3), 301-302

Siyamta (2014). Makalah: Perbandingan sistem pendidikan di beberapa negara (Saudi Arabia, Germany, Finlandia, Amerika Serikat, Australia Dan Sudan). Universitas Negeri Malang, Mei 2014: iii+ 65 hlm,  diunduh  dari  https:// w w w . a c a d e m i a . e d u / 7 8 7 4 3 0 6 / Perbandingan_Sistem_ Pendidikan_di_ B e b e r a p a _ N e g a r a _ Saudi_Arabia_Germany_F inlandia_ Amerika_ Australia_ Sudan_ pada  17 Desember 2014.

Suto, I. (2013). 21st Century skills: Ancient, ubiquitous, enigmatic?. Paper published in January 2013 in Research Matters: A Cambridge Assessment Publication: hal. 1 – 28 diunduh  dari      http:// www.cambridgeassessment.org.uk/Images/ 130437 – 21 st- century- skills- ancient- ubiquitous-enigmatic-.pdf pada 18 Desember 2014.

Wolk, S. (2007). Why go to school?, Phi Delta Kappan, Vol. 88, No. 09, May 2007, hal. 648-658.

Wolk, S. (2008). School as inquiry, Phi Delta Kappan, Vol. 90, No. 02, October 2008, hal.115-122.

World Bank (2005). Directions in development. Expanding opportunities and building competencies for young people. A New Agenda for Secondary Education. Washington, DC.

Tulisan ini dimuat dalam Jurnal Pendidikan PENABUR

No.23/Tahun ke-13/Desember 2014

Berikut dalam format PDF, silakan diunduh:

Hal. 98-106 Sekolah Dambaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s